Saturday, September 13, 2008

Sastra Psikologi Atau Psikologi Sastra

Saya kurang tahu persis sastra psikologi atau psikologi sastra sebagai satu pilihan yang paling tepat untuk mengembalikan ranah pencapaian pengetahuan psikologi secara mikro, namun kalau melihat bangunannya dapatlah dikonsepsikan bahwa ada dua beda sumber pengetahuan untuk kedua persoalan tersebut. Sastra psikologi adalah komponen kreatifitas estetis yang dikembangkan melalui khazanah sastra yang didalamnya mendeskripsikan aspek-aspek pergolakan psikis yang dirangkai dalam berbagai subdisiplin dalam sastra atau sastra itu sendiri sebagai buah naratif dari orang-perorang yang melibatkan dinamika psikologis dalam bentuk-bentuk fiksi dan non-fiksi. Kenyataannya sebuah produksi sastra hampir tidak luput dari fakta psikologis tentang konflik batin, ungkapan kebencian, kedamaian, keindahan, parodi, atau semisal kumpulan dinamika krisis yang kesemuanya menyentuh persoalan kehidupan yang telah dirangkai dalam kreatifitas imajiner.

Sastra psikologi dengan demikian adalah aliran tak teratur tanpa dikombinasikan dengan logika keilmuan psikologi dalam menyusun sebuah fakta psikologis yang dimodifikasi dari model-model realitas ke susunan naratif yang ditentukan oleh selera, kreatifitas, gaya tertentu dari pengarang atau sebuah fakta imajiner yang bisa jadi liar, bebas, suka-suka yang kesemuanya semata-mata lahir dari altar dimensi kognitif, emosi, spiritualitas, kebermaknaan yang menembus berbagai keteraturan dan kemapanan serta kerap ia menimbulkan propaganda konflik psikologis dari audiens-nya. Contohnya Langit Makin Mendung, karya Ki Pandjikusmin yang mengguncang otoritas doktrin Islam sehingga menimbulkan pergolakan mahadahsyat berujung pada sebuah teka-teki siapa Ki Pandjikusmin dan ini kemudian dianggap merupakan bagian dari siasat dan propaganda PKI. Karya sastra lain yang juga sempat menghentak adalah karya Muhidin M. Dahlan Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Gugus deskripsi fiksinya telah banyak mengambil hati kaum muslim sehingga banyak yang seolah kebakaran jenggot. Kedua karya sastra ini menjadi titik balik realitas. Realitas semata hadir sebagai sebuah parodi, lelucon, tidak serius dan ambigu sehingga realitas itu sendiri seolah telah hancur setelah mencoba ditancapkan oleh otoritas kebenaran, moralitas dan agama. Seluruh tatanannya begitu saja mudah dibalik menjadi fakta yang mengalir ke dalam dimensi kehidupan yang nihilistik karena kaidah kebenaran, norma dan agama adalah bagian dari konstruksi psikososial yang berbanding seimbang dengan kejahatan, kebiadaban, kesemena-menaan sebagai perangkat kehidupan karena kedua sama melekatkan kekuatan argumentasi dan desakan hasrat akan hidup yang tidak luput juga masing-masing membela mati-matian untuk mempertahankan konsolidasi kenaifannya.

Sastra psikologi tidak lain saya anggap adalah fakta psikologis yang mewadahi dunia batin dari pengarangnya sebagai bagian dari kegiatan konstruksi sosial terhadap kenyataan, entah itu disebut sebagai kisah nyata atau fiksi yang dimainkan dalam hasrat imajiner. Sastra psikologi dengan demikian bisa saja diidentikkan sebagai kerja seni yang mempertajam realitas kemanusiaan dalam berbagai bentuk pemaknaan subyektif sebagaimana tercermin dalam karya bertutur yang dimanifestasikan menjadi khazanah cerita, bait-bait sajak, puisi, cerita pendek dan novel, monolog, dialog, seni pertunjukan atau lainnya yang memanifestasikan gambaran keragaman kehidupan sebagai bagian dari praktik. Sastra psikologi juga dapat dianggap bagian dari kehidupan dan realitas psikologis yang tergambar jelas dengan detil-detil persoalannya atau bangunan metafora yang dirangkai untuk tujuan-tujuan tidak langsung sebagai sebentuk siasat kritisisme mengenai kehidupan dan dunia sosial di sekitarnya. Bagi saya sastra psikologi adalah kerja seni yang multidimensional tanpa prosedur standar dari sebuah makna tunggal yang hendak dicapai. Sastra psikologi adalah ruang dinamisme sebagai bagian dari praktik hidup itu sendiri.

Membuka Habitus Baru

Saat pergelaran seminar dengan tajuk "menjadi Indonesia dengan budaya sendiri" yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang beberapa bulan lalu, saya sempat mencoba melakukan anasir pemikiran mengenai perjumpaan produktif antara sastra dan psikologi. Seminar itu memang dihadiri oleh satu seniman kondang Putu Wijaya dan psikolog Darmanto Jatman yang juga seorang seniman. Perasaan saya saat itu memang menjadi aneh dan seolah memindahkan psikologi menjadi sastra atau seni. Namun, daur ulang pertemuan kedua disiplin ini menjadi menarik manakala saya mengingat kembali sebuah acara yang digelar di Ubaya (Universitas Surabaya) dengan tema kurang lebih "lukisan sebagai senjata".

Banyak kiranya dimensi-dimensi sastra menjadi bagian terintegrasi ke dalam dunia psikologi secara lebih spesifik. Apa yang hendak dikatakan di sini adalah unsur-unsur produksi sastra sangat bermanfaat jika kemudian diletakkan sebagai area di mana komponen naratifnya atau hasil-hasil karya sastra mensinergikan fakta psikologis dan sebaliknya fakta-fakta psikologis dapat dibentuk melalui komponen produksi sastra. Banyak para profesional psikologi kemudian membuat satu narasi mirip dengan produksi kinerja sastra sebagai bagian dari alat intervensi dengan tujuan untuk menggerakkan altered consciousness. Tidakkah misalnya relaksasi dengan sebuah musik, atau narasi yang disusun secara merdu sembari diiringi oleh lantunan musik melankolis, semacam mozart atau kata-kata yang dirangkai dan disusun menyentuh jiwa dan bersamaan itu dunia pikiran, emosi dan tubuh dikendorkan dari kepenatan hidup dan lain-lain sebagai bagian dari praktik relaksasi mengandaikan tumbuhnya dimensi-dimensi kesastraan sebagai alat mereproduksi kinerja psikolog ?.

Di sini diandaikan jikalau sastra kemudian menjadi medium dan instrumen psikologis dan bisa diperdayakan sebagai metamorfosis psikologis, baik dalam konteks profesionalisme atau sebagai praktik hidup. Produksi sastra tercakup didalam nilai-nilai psikologis yang cukup banyak dikaji dan menjadi bagian dari riset-riset psikologi. Tidak salah kemudian akan tercipta habitus baru yang dicoba oleh para ilmuan psikologi menggunakan atau mereproduksi dimensi-dimensi kesusastraan berikut unsur-unsur psikologisnya yang bermanfaat bagi pengayaan disiplin psikologi.

Artinya tidak saja riset yang dibutuhkan tetapi metodologisnya juga bisa menggunakan sastra sebagai instrumen keilmuan psikologi. Suatu misal, kita sebagai seorang pembelajar bisa menggunakan narasi autobiografi sebagai metode praktik yang ditulis sendiri oleh mahasiswa psikologi dan hasil dari kumpulan autobiografi kemudian dianalisis sebagai bahan praktikum atau bahan analisis dalam konseling atau psikoterapi juga oleh mahasiswa itu sendiri. Hal ini menurut hemat saya akan menambah jumlah kreatifitas mahasiswa karena pembejalaran psikologi menjadi pembelajaran artistik yang mendinamisasi kejiwaan kita menjadi lebih hidup dan menubuhkan kreatifitas ke dalam imajinasi artistik yang bisa membangun imajinasi, ilusi, dan fantasi produktif sehingga pembelajaran psikologi tidak hanya dihimpiti oleh pembakuan-pembakuan alat ukur dan tes-tes yang hampir menjadi mekanistik dalam kinerja psikologi.

Dalam riset pun dapat kita mengambil pengaruh-pengaruh sastra seperti seberapa kuat orang membaca novel akhirnya mempengaruhi perilaku dan sikap mentalnya sehingga cerita bisa menginduksi seseorang dalam berbuat sesuatu atau tokoh cerita menjadi modeling pembacanya atau bagaimana dinamika transformatif psikologis peran seorang seniman ketika sedang melakukan kerja kesenian sehingga meneliti novel, puisi, lirik lagu, profil seniman, efek-efek produksi sastra menjadi sub-kajian yang memperkaya cara kerja psikologi sebagai diskursus baru dan tidak tabu untuk hadir sebagai medium pengkajian keilmuan dalam psikologi. Lagi, mengapa orang begitu tabu dan menyoal begitu mendalam efek tulisan atau lukisan telanjang terhadap wacana pornografi. Dimensi-dimensi apa orang kemudian melakukan kritik dan memandang nyinyir produksi sastra ketika pekerjaan seniman mencoba mereproduksi kenyataan sosial ke dalam lakon wayang, film, novel, lukisan atau seni pertunjukkan. Riset psikologi pada akhirnya dihadapkan pada mampukan realitas ini didiskursifkan sebagai bagian dari kerja laboratorium dan seperti apa komponen ini menjadi bagian dari siasat hidup baik bagi ilmuan psikologi dan pekerja seni untuk bersama memaknai dunia sehingga psikologi tidak terpaku pada logosentrisme pengetesan psikologis an sich. Mampukah! Tentu butuh eksplorasi lebih lanjut.

2 comments:

muhammadfathulhuda said...

wah banyak banget

Anonymous said...

I know this web site gives quality based articles and extra information, is there any other site which gives these things
in quality?

My web site ... adult flirting