Judul : Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan; Penulis : KH. Husein Muhammad;
Penerbit : Mizan, Bandung; Tahun : Oktober 2011; Tebal : xiv + 217 Hal
Metanarasi. Peristiwa kekerasan agama yang didasari oleh ketegangan antarkelompok agama dan antaragama di Indonesia membuktikan perbedaan belum dihargai sebagai rahmah. Padahal kemajemukan bangsa ini niscaya saat laku hidup kita semakin terampil dalam mengelola perbedaan.
Husein Muhammad, sosok Kiai feminis, ini berusaha menyumbangkan nalar pluralisme dengan menggali pemikiran lima mahaguru umat Islam. Mereka adalah Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibn 'Arabi, Al-Hallaj, dan Ar-Razi. Kiai Husein ingin membawa Islam ke perspektif religio-humanistik agar keberagamaan kita mampu menoleransi perbedaan. Secara tauhid, Islam itu agama yang melampaui identitas dan berkembang menjadi agama yang memanusiakan manusia. Islam bukanlah agama yang menghancurkan kemanusiaan tetapi agama yang menjaga agar kemanusiaan lestari dan sebagai spirit mengelola perbedaan. Oleh karena itu, perbedaan sebuah agama tidaklah terlalu penting dan dipertajam.
Pandangan tersebut dibahas secara mendalam pada bagian pertama buku ini melalui perspektif metodologis untuk menemukan dasar-dasar pluralisme dalam Islam, terutama dalam memahami Al-Quran. Metodologi yang ditawarkan menggunakan takwil (hermeneutik) atau disebut tafsir bi al-ra’yi. Metode ini menangkap makna Al-Quran melampaui materi literalis teks. Kelahiran teks suci Al-Quran mengandung gagasan kontekstual yang perlu diselami sampai tersingkap fakta-fakta dibalik makna yang terlafadzkan, dari yang terpikirkan hingga yang tak terpikirkan, bahkan mencapai makna spiritualitasnya.