Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Monday, July 23, 2012

Hikmah 2 : Manfaat Silaturahim di Rutinan Jamaah Waqiah

Tarawih kedua, saya ingin menguraikan manfaat silaturahim. Di ramadhan kedua ini, kebetulan di rumah ada acara rutinan Jamaah Waqiah sehingga tarawih keluarga dilakukan di rumah sendiri. Rutinan Jamaah Waqiah diikuti dari kalangan muda IKA-PMII yang kebanyakan dari alumni UIN Maliki Malang, namun sebagian yang hadir ada juga sahabat-sahabat dari komisariat, KOPRI, rayon dan sahabat-sahabat yang baru saja usai dari kepengurusan komisariat dan rayon.
Rutinan Jamaah Waqiah sudah berjalan tiga tahun. Setiap tahun kami usahakan agar selalu ada anggota yang ikut berpartisipasi. Jenjang partisipasi ini bersifat sukarela dan ada yang berinisiatif meningkatkan intensitas partisipasi dengan cara arisan.

Friday, June 29, 2012

Layang-Layang

Melaju melampaui batas atap-atap rumah yang padat
Bergerak melayang kesamping kiri kanan
Kadang menghujam ke bawah
Berputar seperti kincir
Gerak itu berada dalam kendali tangan yang menguasainya
Meskipun berserak kabel
Tak mampu membatasi tangan terampil mengurai benang
Menerobos melampaui ranjau kabel
Meskipun mainan, tapi ia adalah raja langit musim kemarau
Menundukkan angin melalui gerak tarik-ulur
Menari, bertarung dan berebut keistimewaan
Memadu kreasi mengelola emosi
Dibawah kendali tangan terampil
Layang-layang menandingi awan
Menyaingi bintang sore hari

Malang, 28 Juni 2012

Tuesday, May 29, 2012

Mewarisi Anak Permainan Tradisional

Melatih bermain egrang bagian dari
mewarisi anak permainan tradisional
Metanarasi. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia berujar JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Saya tidak sedang menulis sejarah bangsa ini. Kata Bung Karno tersebut ingin saya cuplik kedalam konteks sejarah diri kita, terutama yang dibesarkan dan hidup dari lingkungan pedesaan. Saya ingin menarik sebuah kehidupan masa kecil/anak-anak dari sebagian kehidupan masa lalu kita yang dibesarkan dalam budaya pedesaan yang kaya berbagai permainan tradisional.

Bagi Anda yang memiliki sejarah hidup masa kecil tentu Anda memiliki segudang bank permainan tradisional. Jika sejarah hidup di masa kecil Anda demikian, yakni pernah menjadi pelaku permainan tradisional maka beruntunglah Anda karena pengalaman tersebut menjadi bekal positif guna mendukung cara asuh anak Anda sehingga mampu menciptakan daya dukung perkembangan anak. Daya dukung yang murah, memories, dan bisa menurunkan ketegangan seperti stress dan refreshing jika permainan yang kita mainkan kembali di masa lalu, tetapi sekarang dimainkan bersama-sama dengan anak Anda.

Jangan buang pengalaman masa lalu tersebut. Permainan tradisional telah menjadi sejarah hidup maka wariskan pada generasi mendatang melalui proses transmisi belajar memainkan kembali pada anak-anak Anda. Belajar memainkan permainan tradisional banyak membantu perkembangan motorik anak, kematangan sosialisasi, membantu proses perkembangan emosi sosial anak, praktik latihan pengambilan keputusan dalam sebuah hubungan dan bahkan menstimulasi perkembangan kognitif dan moralitas anak.

Saturday, May 19, 2012

Jejak Pluralisme dalam Islam

Judul : Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan; Penulis : KH. Husein Muhammad;
Penerbit : Mizan, Bandung; Tahun : Oktober 2011; Tebal : xiv + 217 Hal

Metanarasi. Peristiwa kekerasan agama yang didasari oleh ketegangan antarkelompok agama dan antaragama di Indonesia membuktikan perbedaan belum dihargai sebagai rahmah. Padahal kemajemukan bangsa ini niscaya saat laku hidup kita semakin terampil dalam mengelola perbedaan.

Husein Muhammad, sosok Kiai feminis, ini berusaha menyumbangkan nalar pluralisme dengan menggali pemikiran lima mahaguru umat Islam. Mereka adalah Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibn 'Arabi, Al-Hallaj, dan Ar-Razi. Kiai Husein ingin membawa Islam ke perspektif religio-humanistik agar keberagamaan kita mampu menoleransi perbedaan. Secara tauhid, Islam itu agama yang melampaui identitas dan berkembang menjadi agama yang memanusiakan manusia. Islam bukanlah agama yang menghancurkan kemanusiaan tetapi agama yang menjaga agar kemanusiaan lestari dan sebagai spirit mengelola perbedaan. Oleh karena itu, perbedaan sebuah agama tidaklah terlalu penting dan dipertajam.

Pandangan tersebut dibahas secara mendalam pada bagian pertama buku ini melalui perspektif metodologis untuk menemukan dasar-dasar pluralisme dalam Islam, terutama dalam memahami Al-Quran. Metodologi yang ditawarkan menggunakan takwil (hermeneutik) atau disebut tafsir bi al-ra’yi. Metode ini menangkap makna Al-Quran melampaui materi literalis teks. Kelahiran teks suci Al-Quran mengandung gagasan kontekstual yang perlu diselami sampai tersingkap fakta-fakta dibalik makna yang terlafadzkan, dari yang terpikirkan hingga yang tak terpikirkan, bahkan mencapai makna spiritualitasnya.

Thursday, May 10, 2012

Melukis Itu Membebaskan Imajinasi

Aktifitas melukis
di Zona Car Free Day
Metanarasi. Minggu ini (25/03) saya melaju untuk merenggangkan syaraf dan berolah raga sembari menyemarakkan Free Car Day (FCD) yang sudah digagas Kota Malang sepanjang jalan Ijen Kota Malang. FCD menjadi mode wisata baru di kota Malang yang lambat laun mewadahi subkultur Malang kedalam geliat kebudayaan sub-urban.

Di Minggu ini saya mengayuh sepeda lipat menuju iconnya kota Malang, yakni Jalan Ijen. Kegiatan minggu seperti ini memang menjadi alternatif bagi sebagian warga urban seperi saya ini, meskipun tidak rutin.

Kegiatan yang semula ke pasar minggu bersifat konsumtif karena hanya tertuju pada wisata belanja di pasar minggu. Namun sejak diberlakukan Car Free Day, geliat komsumtif terpecah menjadi wisata budaya karena jalan Ijen yang semula terisi lalu lalang kendaraan bermotor diganti sebagai ruang publik dengan beragam dinamika komunitas sub-urban yang berkelompok berdasarkan identitas masing-masing serta unjuk kebolehan dari masing-masing komunitas. Jalan Ijen menjadi jalan yang atraktif.

Tuesday, May 08, 2012

Cita-Citaku Tercapai


Metanarasi. Saya merasa terkejut membaca cerita anak saya yang pertama sebagai bagian mengisi waktu luang libur sekolah. Ceritanya sederhana tetapi bagi kami begitu inspiratif, membikin kami sekeluarga galau sejenak. Dia adalah Zara Dz yang saat ini duduk di bangku kelas empat SD. Saya mengamati sudah agak lama dia tidak latihan menulis. Aktifitas di luar belajarnya hari-hari terakhir ini lebih suka membaca buku cerita (KKPK). Saya pun mencoba untuk mengajak dia menulis dan saya katakan kepada dia, "Mbak, kalau hari ini bisa menulis cerita pendek dua halaman, ayah kasih bonus buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Dia langsung tanggap dan membuat tulisan. Berikut ini hasil tulisannya :

***
Menjelang siang hari Zaza bermain dengan temannya. Zaza, Mila, Fita, dan Rara sedang berdiskusi dan berpikir mau bermain apa. Karena Zaza bercita-cita ingin menjadi koki yang paling enak makanannya. Dia ingin menjadi koki yang terkenal dan berkeinginan keliling dunia.

Sunday, May 06, 2012

Mengharap Imbalan dari Shodaqah

Metanarasi. Di akhir bulan ini (Insya Allah Desember, 2011) saya terlibat refleksi mengenai shodaqah dan makna ikhlas dengan keluarga dan sejawat. Pembicaraan ini bagian dari usaha belajar melatih menjadi ahli shodaqah, meskipun sebutan itu bukan sebuah obsesi akhir shodaqah. Sebuah kebetulan saya bertemu dengan seseorang dan dalam pembicaraan tersebut tidak sengaja sampai pada pembicaraan mengenai membiasakan diri shodaqah. Dia bercerita kalau saat ini sedang menggalang kelompok ahli shodaqah dan mendapat anggota 10 orang. Kelompok tersebut mendedikasikan diri dengan menarget 10 juta dalam setahun untuk shodaqah perorang.

Kami tidak sedang membahas dengan rasionalisme, yakni membangun logika dasar dalam menakar kesanggupan mencapai target itu. Kami terfokus berbicara mengenai metanarasi—merangkai berbagai penuturan yang cukup beragam—dibalik hikmah shodaqah. Menurut dia, kemauanlah yang menjadi modal, meskipun secara matematis hitungan pemasukan pun tidak sebanding dengan akumulasi target shodaqah. Bershodaqah menurutnya perlu dibangun melalui kebiasaan yang kontinum terus menerus sepanjang hayat.

Sunday, September 18, 2011

Permainan Tradisional dan Perkembangan Jiwa Sosial Anak

Metanarasi.com -- Kematangan jiwa sosial anak dapat diukur dari intensitas anak bergaul dengan teman sebayanya. Kematangan jiwa sosial adalah matarantai perkembangan yang mementingkan kualitas hubungan sebaya. Anak-anak yang tumbuh dalam hubungan sosial sebaya yang semakin matang, mereka akan belajar menghargai orang lain, melatih diri mampu berbagi dan mampu mengitegrasikan pribadinya ke dalam kesadaran etik kelompok. Pribadi anak yang mampu berkembang seperti ini menandai bahwa mereka sehat secara mentalnya.


Salah satu instrumen membentuk kematangan jiwa sosial anak ini antara lain ada pada praktik-praktik permainan tradisional karena hampir permainan tradisional yang ada di berbagai wilayah, sebagian besar dimainkan secara berkelompok.

 Suatu contoh yang diambil di sini adalah gedrik atau sebagian daerah menyebut engklek, engkle. Permainan ini dilakukan secara berkelompok oleh sejumlah anak. Dalam praktiknya, gedrik mengandung stereotipe gender. Permainan gedrik biasanya identik dimainkan oleh perempuan di kampung-kampung. Namun demikian pada pergeserannya permainan tradisional dapat dipraktikkan lintas gender dan dalam pengamatan saya, stereotipe tersebut dapat dinegasikan karena pada praktiknya anak-anak laki-laki dan perempuan tidak mendapati stereotipe tersebut ketika sedang memainkan gedrik. Artinya stimulasi permainan tradisional gedrik ini telah menjadi instrumen bagi perkembangan komunikasi gender pada anak-anak sehingga anak-anak juga terlatih menjalin komunikasi antarjenis kelamin.

Thursday, September 16, 2010

Arus Balik Bersepeda, Sebuah Siasat Kaum Urban


Urung niatan saya dan keluarga untuk mudik bersepeda dari Malang menuju Tulungagung pada lebaran kali ini. Bukan apa-apa. Ingin berfenomenologi untuk turut serta merasakan bagaimana orang-orang mudik dengan bersepeda. Disamping itu juga mengingat kembali masa ketika kami juga pernah memilih jenis mudik dengan cara ini. Saya melakukan untuk beberapa tahun silam ketika kami masih punya anak satu. Tetapi, akhir-akhir ini sudah tidak saya lakukan lagi. Terasa repot. Tenaga sudah tidak seambisi yang dulu-dulu. Meski ketagihan, tetapi keputusan akhir kami sekeluarga batal mudik bersepeda.

Namun demikian, pusaran jalan raya tetap saja tidak berkurang gara-gara urung niatan kami mudik bersepeda. Tetap saja, jalan raya berjibaku dengan lalu lalang orang berkendara sepeda dengan isyarat mudik dan balik masa lebaran. Kebetulan saya pagi ini terbersit untuk mengobservasi dan menghitung jumlah pemudik-balik lebaran di teras rumah di Denanyar Jombang. Selama lebih kurang 5-10 menit, ada sejumlah 32 arus balik yang menggunakan sepeda. Saya menghitung pada lalu lalang sepeda yang menuju jalur Surabaya, yang terlihat bentoyot membawa anak-anak.
Ragam berita juga membahas mudik-balik lebaran dengan bersepeda motor. Beresiko memang, ketika ditinjau dari segi keamanan dalam berkendaraan. Terlebih muatan motor, tidak jarang, terpaksa diberi tambahan peralatan agar mampu mengangkut perkakas pengendara selama berada di kampung halaman. Lebaran telah mendorong jutaan orang untuk memilih mudik-balik dengan bersepeda motor.

Keputusan semacam ini telah menjadi bagian dari upaya mengobati kerinduan kaum urban atas kampung halamannya. Amat sulit mencegah. Beberapa tahun, polisi dan berbagai pihak untuk tidak memilih angkutan transportasi sepeda untuk mudik-balik. Tetapi anjuran itu tetap terbantahkan hingga hari ini. Mudik-balik bersepeda adalan keputusan kompleks dalam keluarga. Mempertimbangkan mudik-balik bersepeda motor dilakukan dengan berbagai alasan meskipun menerjang kenyamanan dan keamanan. Beberapa orang tetangga di kampung saya juga merasakan kecapekan setelah melakukan perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung. Belum lagi ditambah akan pergi ke Ngawi untuk berkunjung ke rumah mertua. Lebaran telah mementalkan banyak orang untuk menguras tenaga melakukan perjalanan yang jauh dengan bersepeda motor.

Realitas ini merupakan dinamika kaum urban. Suatu jenis masyarakat menengah kota dengan budaya lebaran dalam berbagai dinamika perilaku. Mereka adalah orang-orang rantau yang selalu ingin menabur cerita dan representasi diri keluarga yang merasa lengkap jika mereka tetap bisa kembali ke kampung halaman. Lebaran adalah momentum untuk merenda kekeluargaan menembus jarak pisah yang dialami oleh anggota keluarga. Magnit kampung halaman telah menarik kembali masyarakat urban untuk sekedar meninjau tempat kelahirannya.Memilih sepeda motor adalah satu dari sekian transportasi lebaran untuk menembus dinding jarak pisah keluarga dan merajut kembali pudaran makna kelekatan keluarga yang sekian lama telah hilang.

Tentunya keputusan bersepeda diambil karena beberapa pertimbangan seperti rendahnya trust kaum urban ini terhadap angkutan publik kita. Apa dikata. Lebih nyaman menggunakan sepeda motor sendiri daripada berebut bis atau kereta dengan penuh desakan. Belum lagi udara panas menyengat sepanjang perjalanan. Angkutan publik kita untuk taraf kelas ekonomi amat tidak nyaman. Selain itu, personalisasi dalam angkutan publik kelas ekonomi hampir musnah dan rawan keamanan seperti copet dan bentuk kejahatan lain di angkutan publik atau gaduh-riuh serta crowded. Memilih angkutan kelas eksekutif juga akan menguras pengeluaran. Dus, kaum urban membuat siasat bersepeda motor untuk mengakali berbagai dinamika ketaknyamanan dalam mudik-balik.

Bersepeda motor memang beresiko, tetapi begitulah bahwa masyarakat urban telah berani menantang resiko. Di antara mereka punya dalih, “la bagaimana lagi…dengan bersepeda menjadi murah, meskipun mereka tahu resiko yang bakal terjadi. Yang penting hati-hati dan pelan-pelan, nyantai saja, tidak terburu waktu”, seloroh ini, muncul di sejumlah wawancara di media TV.

Dengan bersepeda motor, mereka menyiasati depersonalisasi dalam angkutan publik. Jikalau dengan angkutan publik mereka tidak mendapat jaminan mutlak ruang personal saat mudik-balik, dengan bersepeda motor, kaum urban ini mendapati ruang personalnya menjadi absolut. Sama seperti kaum berduit yang mudik-balik dengan kendaraan roda empat. Mereka lebih nyantai. Punya kuasa mengatur ritme perjalanannya. Ruang personal ini akan dinikmati satu keluarga selama dalam perjalanan. Jika capek, mereka akan mengambil tempat istirahat di bawah pohon di pinggir jalan sambil leyeh-leyeh. Menerung atau melamun membuat imajinasi indahnya ketika sesampai di kampung halaman. Atau, singgah di warung-warung pinggir jalan. Jikalau anda melewati jalur Jombang-Malang lewat Pujon, pemandangan di pinggir-pinggir perbukitan akan terlihat pemudik-balik yang bersepeda motor sedang menghela nafas, mengatur ritme perjalanannya dengan santainya. Dengan bersepeda, para pemudik-balik ini mengumbar selera jalanan sesuai dengan kesepakatan. Ingin berhenti di mana saja bebas, tidak terburu waktu segera sampai, karena mereka juga mengerti resiko.

Personalisasi jalan mampu disiasati oleh kaum urban ini dalam perjalanan mudik-balik. Mereka ingin juga mendapati metamorfosis kenyamanan, terutama ruang personal dalam perjalanan. Bersepeda adalah cara menyiasati kebutuhan pemudik ini. Dengan bersepeda, mereka juga berkeinginan mendapat kemudahan dalam bersilaturrahmi dengan kerabat di kampung.

Mereka berebut kenyamanan dengan bersepeda sesuai dengan logikanya sendiri-sendiri. Menembus resiko, menembus jarak, dan. menembus waktu. Semuanya bisa disiasati oleh kaum urban melalui mudik-balik bersepeda. Keluarga adalah kebahagiaan. Identitas diri dirajut dalam berbagai cerita-cerita keakraban. Bersepeda adalah siasat kaum urban untuk mendapati cara-cara lain dari sekian alternatif menemukan entitas kebahagiaan, canda ria, atau mengulang kisah lama sehingga menjadi kisah-kisah humor.

Bersepeda adalah bagian untuk membayar semuanya. Apakah anda juga demikian. Jika iya, hati-hati di jalan.

Sangu, Simbolisme Material Dibalik Silaturrahmi


Segerombolan anak-anak dengan gegap gempita keluar masuk pintu, berpindah dari satu rumah ke rumah lain dalam deretan rumah-rumah renggang di sebuah kampung. Fenomena ini saya amati di kampung kelahiran saya di Sambidoplang, Sumbergempol, Tulungagung. Rata-rata usia mereka kisaran Sekolah Dasar dan sebagian kecil adalah anak-anak yang sudah menginjak usia Sekolah Menengah Pertama. Mereka digerakkan oleh semangat tradisi lokal pada saat lebaran (Hari Raya Idul Fitri). Meskipun tidak begitu banyak, sekumpulan anak-anak seperti itu masih saya jumpai hingga musim lebaran hari ini.

Anak-anak ini dihidupi oleh nilai-nilai lokal lebaran. Pada usia perkembangan yang “kemaruk” dan sedikit memiliki perasaan heroik sebaya, mereka menunjukkan independesi dalam bersilaturrahmi. Mereka biasanya enggan mengekor (jawa:nginthil) dengan orang tua mereka untuk berjalin silaturrahmi. Anak-anak ini membentuk kelompok sempalan dari orang tua mereka.

Mereka tidak saja merdeka dari orang tua. Anak-anak ini merasa bahwa momentum lebaran banyak mendatangkan berkah dan kemerdekaan untuk mengelola budget di sakunya tanpa intervensi kepemilikan dari orang tua mereka. Sepercik kebahagiaan bagi mereka dibalik lembaran-lembaran uang recehan. Bagi anak-anak, termasuk penulis di saat kecil juga mengalami hal yang sama, uang saku merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bobot silaturahmi. Sebagian diantara kelompok anak-anak ini, bahkan bisa dibilang silaturrahmi ditambah golek sangu adalah perbincangan yang menghangat diantara sebaya. Bahkan anak-anak ini telah menginventarisasi keluarga-keluarga yang rutin selalu memberikan uang saku kepada anak-anak. Anak-anak di kampung ini begitu hafal, siapa keluarga yang setiap hari raya selalu menyediakan uang sangu.

Sebagai bagian dari keluarga, terkadang, anak-anak ini sudah susah dikenali. Anak-anak ini memang asing bagi keluarga kami. Ayah atau ibu saya, biasanya lebih dulu menanyai anak-anak ini satu persatu. Iki anake sopo ae…. Anak-anak ini menjawab satu per-satu. Sebagai anggota keluarga, perkenalan ini adalah investasi sosial. Kami merasa mendapat informasi baru generasi-generasi ini dilahirkan oleh siapa. Terkadang, kami mengenal orang tuanya, tetapi sudah lupa anak-anak mereka. Melalui segerombolan anak-anak, kami satu demi satu diingatkan siapa mereka.

Setelah perkenalan ini rampung, ada yang menunggu uang sangu digelontorkan pada mereka satu persatu sambil mereka berbisik-bisik lirih. Isi bisikannya juga terkait dengan uang sangu dan berebut siapa yang mewakili untuk mohon pamit. Ada juga mereka langsung segera mohon pamit. Tuan rumah kemudian mencoba menghentikan laku mereka sebelum keluar rumah. Biasanya dengan kata-kata, sik..entenono ki lee….Mereka paham bahwa kalimat ini adalah isyarat jikalau uang sangu akan berada di tangan. Selembar uang sangu kemudian ditransfer dari tangan pemilik rumah ke anak-anak. Biasanya lembaran uang sangu bervariasi. Tergantung pada tingkat usia dan kedekatan keluarga. Kalau anak yang masih kecil dan tidak ada hubungan darah, rata-rata mereka mendapat nominasi standar. Kalau sekarang nominasi standar adalah dua ribu rupiah. Jikalau keluarga dekat, uang sangunya lebih besar, yakni lima ribu keatas.

Gerak materialisme menandai sebagian makna-makna silaturahmi pada lebaran. Uang sangu menandakan deferensiasi makna keluarga di mata anak-anak berdasarkan stratifikasi sosial. Identifikasi ini menjadi bagian dari kategorisasi sosial dalam cara berpikir anak-anak. Bahwa niatan berkunjung, selain memberikan makna habituasi untuk meruwat lebaran sebagai bagian dari tradisi lokal, anak-anak terdorong oleh hasrat mendapat uang secara cuma-cuma. Lebaran dengan demikian menjadi ruang sosialisasi atas nilai-nilai lokal terkait dengan uang. Ia menjadi bagian dari proses reproduksi makna uang sebagai bagian dari hubungan sosial anak-anak.
Dari sini, anak-anak beroleh modal. Mereka merasa bangga karena menguasai uang tanpa intervensi orang tua. Orang tua hanya bertugas mengamankan uang. Dari sini anak-anak dibelajari suatu proses kepemilikan uang. Suatu misal, anak saya, Alul. Dia tidak mengerti artikulasi makna silaturrahmi. Tetapi dia sudah menginternalisasi bahwa kebiasaan berkunjung di waktu lebaran merupakan satu cara darinya beroleh uang dari sangu saudara orang tuanya. Aktifitas dominan pasca berkunjung adalah menghitung ulang modal yang dia dapatkan sebagai bagian dari cara belajar kepemilikan uang. Lembar demi lembar dihitung. Akumulasi nominal total jumlah uang diperoleh, dieja, diimajinasikan dan muncul rasa bangga atas kepemilikan dia. Saat ditanya, dia menjawab, “saya seneng, soale bisa beli-beli”. Berbalik dengan itu, secara positif, ibunya mengajari, “nanti dibelikan sepatu futsal saja”. Di sini makna uang telah direproduksi dari proses kepemilikan ke nilai guna. Sebuah learning process, bagaimana anak-anak dibelajari tentang nilai uang, tujuan, fungsi atau bahkan konsumsi.

Melalui kacamata interaksionisme simbolik, sangu melekat menjadi bagian dari petanda silaturrahmi pada masa lebaran. Ia menjadi bagian dari proses representasi diri keluarga dan dijadikan ikatan emosional kekerabatan. Bagi keluarga atau sanak kerabat yang telah sukses dan berhasil, mereka akan memberikan nominal uang lima ribu rupiah ke atas bagi keluarga-keluarga dekat. Kalau seorang pejabat semisal kepala desa di desa kampung saya, rata-rata, dia memberi uang sangu, lima ribu rupiah kepada setiap anak kecil yang berkunjung.

Uang sangu di hari lebaran menandai proses dan dinamika interaksi manusia pada saat lebaran. Bagi anak-anak, diberi sangu adalah sebuah penghargaan bahwa kehadiran mereka dihargai sebagai manusia. Kehadirannya dianggap ada, meskipun sebagian tidak mengenal langsung. Di sinilah proses kebudayaan dari nilai uang dibentuk secara kuat di hari lebaran, bersama makna silaturahmi sebagai modal sosial yang merekatkan nilai-nilai pertetanggaan dan persaudaraan sesama muslim.

Fakta ini akan selalui direproduksi pada saat lebaran. Apakah di kampung anda juga terjadi seperti itu ? Mari berbagi cerita.

Monday, September 13, 2010

Ronda Tetek, Bergeliat dalam Perubahan


Ronda tetek adalah satu tradisi masyarakat pedesaan yang hidup semarak di saat bulan ramadhan. Geliat ronda tetek bergema dalam berbagai irama alat musik tradisional yang sebagian besar dibunyikan dengan cara dipukul. Ronda tetek didominasi oleh alat musik kentongan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Alat itu dibuat tergantung pada kebutuhan personel pemukul dan jenis bunyi yang diinginkan, mulai dari not yang paling rendah sampai not tertinggi.

Pada 16 tahunan yang lalu, alat pukul pada ronda tetek didominasi oleh jenis kentongan. Alat musik jenis ini, kalau dijenjang berdasarkan kelasnya, berada di rata-rata kemampuan pengadaan, dan jenis ketrampilan rata-rata. Sementara, untuk jenis kentongan yang lain, ada jenis kentongan dengan bentuk “clontang”, bentuknya mirip dengan angklung. Notasi-nya lebih beragam dan kompleks. Selain kedua jenis alat tersebut, untuk bas-nya biasanya menggunakan drum tempat air atau tempat minyak (jurigen). Dua jenis alat ini adalah inti dari alat yang digunakan untuk ronda tetek.

Sementara itu, dalam dasawarsa terakhir, alat-alat ini telah mengalami penambahan untuk memperkaya harmoni ronda tetek. Terakhir, dalam pengamatan saya, alat-alat ini telah dikombinasikan dengan instrumen musik modern dengan berbagai ketrampilan memainkan musik. Penambahan instrumentalisasi ronda tetek dibarengi dengan peran dalam kelompok-kelompok kaum muda yang sudah bersentuhan variasi ketrampilan untuk memaknai ronda tetek.

Ronda tetek yang saya alami sekitar 16 tahun silam, adalah sebentuk modal sosial yang dimainkan oleh kalangan remaja pecinta langgar dan mushola yang dimaksudkan sebagai solidaritas sebagai pengingat untuk waktu sahur bagi orang-orang yang sedang berpuasa telah tiba. Pukulan kentongan dengan irama khas, menjadi kegiatan rutin dengan siklus waktu diantara jam 1 pagi hingga menjelang imsak.

Ronda tetek menjadi identitas sosial para ramaja yang waktu tidurnya dihabiskan di masjid-masjid dan mushola di kampung-kampung. Identitas remaja pencinta mushola dan masjid ini memang menggejala di era 1980-an. Hampir di setiap mushola dan masjid di kampung, di situlah remaja yang mencintai agama seolah menjadi santri bayangan dan penyangga kegiatan masjid dan mushola. Termasuk di dalamnya adalah ritme lokal yang menggerakkan ronda tetek saat ramadhan.

Ronda tetek tidak bisa dilepaskan dari proses sosialisasi masa remaja. Aktifitas ronda tetek menyiratkan dinamika interaksi kreatifitas bagi remaja-remaja di kampung. Bahkan ia merupakan metamorfosis bagi upaya tetap meruwat kekayaan kearifan lokal desa melalui geliat dinamika kesenian tradisional berlatar instrumen bambu lokal yang dimodifikasi menjadi peralatan musik.

Melalui peralatan musik ini mereka belajar berinteraksi untuk sesuatu yang produktif. Mereka mencoba mengeja not-not melalui bahan-bahan tradisional. Remaja-remaja ini mencoba membangun imajinasi seni. Mereka bersama-sama mencari bahan-bahan dari bambu. Mereplikasi alat-alat ini agar sesuai dengan imajinasi kolektif mereka sehingga melahirkan bunyi yang menyeruak menjadi suara batin remaja pecinta mushola. Bunyi-bunyi ini menyemburatkan identitas dan kuasa remaja. Seolah bunyi kentongan ini yang terangkum dalam irama kolektif menjadi suara batin mereka. Suara kentongan menandaskan ko-eksistensi bahwa mereka ada bersama bunyi kentongan.

Remaja-remaja ini, sebagaimana penulis juga pernah mengalami proses ini, berburu untuk membangun kolektifitas dan identitas sosial melalui bunyi kentongan. Ada perasaan bangga. Saat kembali ke rumah, sebagian dari mereka selalu bercerita tentang kapasitasnya dalam membentuk khazanah lokalnya melalui kentongan dengan para orang tua mereka.

Bahkan, semangat kolektifitas ini menjadi identitas sosial yang mengakar ke basis-basis mushola tertentu karena hampir pasti setiap mushola selalu memiliki kelompok ronda tetek. Terkadang mereka mengalami bentrok, dan kejar-kejaran untuk menegaskan otoritas mereka dalam ronda tetek. Di jalanan gelap mereka berseteru atau saling mengejar. Tidak ada motif kecuali penguatan identitas sosial dalam ronda tetek. Bahkan jika mereka berpapasan dalam gelapnya malam, meskipun tidak berseteru, atau saling mengejar, mereka tetap berpapasan dengan mengencangkan pukulan kentongan mereka. Di benak remaja ini, mereka ingin mempertahankan irama kolektifitas dari bunyi kentongan. Mereka memukul sekencang-kencangnya. Seolah ingin menjadi penguasa suara dominan dan mengalahkan dari kelompok lain saat berpapasan. Biasa, sebagian dari alat-alat kentongan mereka sampai pecah berantakan. Meskipun bukan suara dominan, tetapi suara antah berantah bagaimana perbenturan antar kelompok remaja ini menyeruah pada suara-suara kentongan di musim ronda tetek pada bulan ramadhan.

Geliat itu sekarang telah bergeser. Remaja-remaja yang terkadang adalah santri bayangan (kalongan), hari ini nyaris telah hilang. Masjid dan mushola di kampung saya, nyaris tidak dihidupi oleh kekuatan remaja pecinta masjid dan mushola. Demikian juga dengan riwayat ronda tetek. ronda tetek telah diperankan oleh remaja-remaja dengan latar belakang bervariasi. Yang saya amati hari ini, ronda tetek dimainkan oleh remaja-remaja dengan identitas sosial tidak berbasis masjid dan mushola, tetapi berbasis pada kelompok-kelompok remaja cangkrukan atau semi gang kampung.

Bergesernya identitas pemain ronda tetek ini membawa pergeseran instrumentalisasi dari semata tradisional menjadi peralatan yang sudah dikolaborasikan dengan peralatan musik-musik modern. Alunan lagunya pun telah mengambil lagu-lagu trend dalam budaya pop masa kini. Geliat ini tentu juga menggeser otentisitas makna dan bentuk sosialisasi remaja kampung hari ini. Geliat di mana ketenaran, gaya hidup dan narasi-narasi pop menjadi suara dari proses komunikasi remaja-remaja hari ini. Saya mengamati, komunikasi mereka juga bercampur dengan remaja-remaja yang berkumpul di pinggir jalan, pelaku bilyard dan remaja yang dilatarbelakangi oleh perilaku-perilaku sedikit berbeda dengan etiket masyarakat desa.

Di sini saya memaknai nuansa ronda tetek berbalik menjadi aura budaya pop, bersifat hura-hura, dan menyeruak aroma remaja yang cara bereksistensinya juga berbeda.

Tetapi, meskipun demikian dinamika modal sosial dan proses sosialisasi ini merupakan fenomena desa dimana akar-akar seni tradisional juga mengambil bentuk-bentuk yang lebih variatif di hari ini. Bahkan sekarang geliat itu menguat dalam lagu-lagu populer dengan membawa sound-system yang berkekuatan massal. Pemutaran musik kencang yang dibawa dengan transportasi gerobak disel, menguat di akhir ramadhan, mirip sebuah pesta jalan dengan lagu-lagu populer. Terkadang sedikit mengganggu dan menggeser ronda tetek. Meskipun ronda tetek juga masih bertahan dalam berbagai kombinasi instrumental musik tradisional dan modern.

Bisa saja, kombinasi peralatan tradisional dan modern ini merupakan matarantai menguatnya musik-musik religi seperti kiai Kanjeng dan dentuman musik sholawat yang telah termodernisasi. Nampaknya, ronda tetek hari ini juga bergeser mengekor pada model populer seni religi yang menyeruak dalam budaya massa yang didoktrinkan melalui layar kaca.