Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Friday, June 29, 2012

Layang-Layang

Melaju melampaui batas atap-atap rumah yang padat
Bergerak melayang kesamping kiri kanan
Kadang menghujam ke bawah
Berputar seperti kincir
Gerak itu berada dalam kendali tangan yang menguasainya
Meskipun berserak kabel
Tak mampu membatasi tangan terampil mengurai benang
Menerobos melampaui ranjau kabel
Meskipun mainan, tapi ia adalah raja langit musim kemarau
Menundukkan angin melalui gerak tarik-ulur
Menari, bertarung dan berebut keistimewaan
Memadu kreasi mengelola emosi
Dibawah kendali tangan terampil
Layang-layang menandingi awan
Menyaingi bintang sore hari

Malang, 28 Juni 2012

Tuesday, May 08, 2012

Cita-Citaku Tercapai


Metanarasi. Saya merasa terkejut membaca cerita anak saya yang pertama sebagai bagian mengisi waktu luang libur sekolah. Ceritanya sederhana tetapi bagi kami begitu inspiratif, membikin kami sekeluarga galau sejenak. Dia adalah Zara Dz yang saat ini duduk di bangku kelas empat SD. Saya mengamati sudah agak lama dia tidak latihan menulis. Aktifitas di luar belajarnya hari-hari terakhir ini lebih suka membaca buku cerita (KKPK). Saya pun mencoba untuk mengajak dia menulis dan saya katakan kepada dia, "Mbak, kalau hari ini bisa menulis cerita pendek dua halaman, ayah kasih bonus buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Dia langsung tanggap dan membuat tulisan. Berikut ini hasil tulisannya :

***
Menjelang siang hari Zaza bermain dengan temannya. Zaza, Mila, Fita, dan Rara sedang berdiskusi dan berpikir mau bermain apa. Karena Zaza bercita-cita ingin menjadi koki yang paling enak makanannya. Dia ingin menjadi koki yang terkenal dan berkeinginan keliling dunia.

Friday, July 30, 2010

Mencumbumu


Rasanya aku ingin mengunjungimu, seketika pikirku membayang dirimu
Namun perjumpaan yang terpikir bertabir muara bencana
Bagaimana tidak, di kanan kiriku menyeruak cemburu
Naif, aku hanya bisa mengumpat dalam hati, bermuram durja dan muksa dalam imajinasi merindu

Kutulis dirimu dalam bait-bait puisi, mungkin akan terobati rindu ini
Meskipun itu tak mewakili hadirmu dalam dekap senyap berbius nafsu
Tumpah ruah bait-bait menguap liar membebaskan ketidakberdayaan
Lantang menyuarakan pendar hati yang tercincang rekat dalam talipati takdir

Sampai di sini aku hanya perlu mengumpat sendiri dalam sanubari yang terkoyak
Tiada hati yang bisa sendiri mengunci pesona kagum atas rona biru
Paling-paling aku hanya bisa mencumbumu melalui goresan tinta dan gerak kuas lukis untuk mereplikasi kehadiranmu

Aku selalu terjebak dalam dilema,
menantimu hadir nyata, atau cukup aku buat nyanyian jiwa seperti tarian jemari mengoles keyboard laptopku untuk membuat puisi-puisi naifku

Wednesday, September 23, 2009

Melintasi 3 desa dalam silaturrahmi


Silaturrahmi di tulungagung begitu padat
Hari pertama, setelah turun dari shalat id, ambengan di musola
Setelah itu silaturrahmi ke nenek (sepupuan) dari jalur ibu
Ada sekitar lima keluarga yang dikunjungi
Menelpon ayah yang berada di jiran
Silaturrahmi juga ke ibu kepala desa, yang memang hampir wajib setiap hari raya
Seolah malu kalau belum ke kepala desa
Selanjutnya silaturrahmi dari jalur ayah
Cukup banyak di seberang desa
Rombongan bersama saudara
Menghabiskan waktu sampai jam 13.30
Tidur, dan bangun lagi

Sorenya melanjutkan silaturrahmi ke tetangga
Dengan berjalan kaki
Istirahat shalat maghrib
Habis itu satu rombongan keluarga meneruskan perjalanan silaturrahmi ke tetangga
Total tetangga yang disilaturrahmii tidak kurang dari 20-an KK
Begitu silih berganti saling berkunjung antar tetangga

Hari kedua, silaturrahmi dengan anggota lebih besar dari jalur ibu
Bersama paman dan anak-anaknya, saudara saya dan anak saya, serta ibu saya
Bersama keluarga besar ibu, silaturrahmi ke anak-anak saudara dari nenek jalur ibu saya
Melintasi tiga desa
Capek
Dhuhur itu tidur-tiduran di rumah sambil nunggu rujak makan bersama keluarga dan sanak kerabat
Berama anak-anak paman, saya meracik es degan pemberian dari saudara yang baru saja dikunjungi

Hari ini, saya mau ke kakek dari jalur ibu

Lanjut ke jombang
Tetapi saya tidak punya banyak bayangan di Jombang
Silaturrahminya tidak sepadat di tulungagung
Tidak tahu mengapa

Friday, September 18, 2009

Sampai di sebuah ruas ketika aku jatuh dari sepeda



Akhirnya sampai juga saya di kampung kelahiranku.
Ingatanku di waktu kecil terurai begitu panjang
Bocah yang dulu sebagai teman bergulat waktu kecil telah melahirkan sejumlah buku
Anak perempuan ingusan yang dulu membelajari sepeda aku
Bahkan kini dia seperti tak begitu kenal aku
Tak tahu, entah karena ia telah bersuami dan sudah beranak
Atau ia tidak sanggup teringat ketika aku jatuh bersamanya saat ia membelajari aku sepeda
Yang ia bisa hanya merunduk menyembunyikan wajah masa lalunya dalam wajahnya kini....


Sawah itu sekarang telah banyak bangunan-bangunan toko dan rumah baru
Jalur ketika aku mencari "jangkrik" saat penghujan tak lagi tampak
Hanya jejak di ingatan ini saja yang tertinggal
Atau aku tersenyum sendiri ketika lihat layang layang kini yang lebih janggih
Dia melayang di malam hari berkedip
Layang-layang kini telah berteknologi
Dipasangkan lampu kedip pada layang-layang kini

Kalau aku dulu si pemain layang-layang
Tapi kini aku hanya bisa tonton dengan memberi penjelasan pada si kecil
Dia adalah anakku

Anakku yang tak pernah lihat layang-layang berteknologi ini
Hidup di kota Malang ternyata tak mampu melihat layang-layang bercahaya lampu biru
Di kota sana layang-layangnya begitu mungil dan hanya terbang sore hari....
Tak begitu menarik
Di desa ini layang-layang telah berganti rupa
Berdengung di malam hari, war-wer...
Bercahaya biru di langit indah

Meskipun gerimis
Layang-layang itu tetap melayang di udara
Memecah gelapnya malam
Desa dengan layang-layangku yang telah bertransformasi

Naim, siti, daroini, agus, roni, imam, kang rosyid, kalim (almarhum), kang sop, rokim...
Ke mana yang lain..................
Mengapa aku tidak ingat nama-nama ketika memanggil kembali zaman di mana aku bersenda gurau ketika itu
Yang selalu ranking satu itu, sekarang di mana yaa...........

Mengapa ingatanku telah ditukar oleh hirup pikuk kota Malang
Ke mana engkau kawan.........
Apakah layang-layang yang telah berganti itu telah mengganti memori ini
Kapan kita bisa main layang-layang seperti tempo dulu
Kapan kita bisa mencari jangkrik seperti dulu...............
Salam dariku untukmu semua
Di mana kita bisa bertemu.......
Semoga kita tidak hanya bertemu dalam imajinasi syairku ini.......
Doaku untukmu kawan......

Monday, January 19, 2009

Kangen Sama Ibu

Cahaya lampu teplok bergoyang menyinari pojok rumah bambu

Terdengar dzikir lembut mengiringi maghrib

Dzikir gayung bersambut bersamaan nyanyian jangkrik

Subhanallah…

krik..krik…

subhanallah



Sosok separuh baya memakai mukena putih bersujud

Lirih, begitu pelan, terdengar begitu pasti, lantunan kata yang terjiwai

Sembari berirama isak tangis yang kecil memecah doa-doa dalam sujud


Mendadak terdengar penutup kata…

Anakku…demimu aku pertaruhkan kerja dan doaku hanya untuk kesuksesanmu

Bukan untuk khianati tuhanmu, apalagi mencampakkan ku…

Aku tak mengharap upah atas asuhanku pada mu,

Bahkan imbalan atau bunga atas harta yang kuberikan,

Tak jua kuberharap kaukembalikan seluruh harta untuk biaya-biaya hidupmu

Semua adalah bakti dari ibu untukmu

Titah tuhan terjelma dalam sanubariku


Tangan jadi sayap

Menerbangi kehidupan untuk menghidupimu

Kaki beralas pelana

Biar lari tak menginjak duri

Biar panas terjinakkan

Mataku bercahaya elang

Selalu terjaga disaat kau tak kuasa melihat dunia dengan renyah

Hati adalah salju

Biar hati selalu berdoa walau kau memarahiku

Tulusku tiada berbatas

Cengkeraman merindukan buah hati di perantauan

Tak saja mimpi menjadi mimpi

Doamu begitu nyaring dalam nafas cita-citaku

Ibu..

Peluklah aku dari kejauhan

Dekap aku biar kembali ke masa lalu

Masa lalu yang indah,

Yang tak berpikir arti dunia

Yang terbebas dari perintah atasan

Yang menangis bukan alasan dipecat dari jabatan

Yang tak selalu mengabdi untuk mendapati cinta

Ibu, kaulah cinta dari cinta

Peringkatmu setaraf dibawah tuhanku

Tuhan, masukkan ibu pada surgamu tanpa hisab

Wednesday, November 12, 2008

cerpen

Tubuh Suci, Mengapa Kau Tabukan

Anda ingin disebut beradab, maka berpakainlah. Jika ingin lebih etis maka belilah baju agar tubuhmu tak dianggap sebagai penjaja dan pendosa di ruang publik. Jika engkau ingin jadi makhluq agamis maka tubuhmu harus kau kafani menggunakan sutra putih yang disebut sebagai kerudung, atau itu mungkin kurang agamis, gantilah kerudung itu dengan mode jilbab karena jilbab adalah dunia religi agar tubuh mencapai status sebagai muslimah atau menjadi seorang rahib yang menyucikan diri ditandai oleh jilbab pula.

"Patuhlah dan jangan membangkang karena undang-undang pornografi bisa jadi memenjarakanmu gara-gara kau singkap jilbabmu demi menyusui bayimu".

Seloroh seorang laki-laki yang mencoba memberi saran kepada seorang perempuan yang menggendong bayinya ketika sedang kebingungan mencari tempat yang steril dari pandangan mata lelaki hidung belang dan beringas di sebuah stasiun kereta api Kota Baru Malang.

Seorang laki-laki ini nampaknya begitu paham kondisi stasiun kota baru. Wajar saja memang lelaki ini tidak lain adalah pedagang asongan yang sudah mahir bermain siasat ditengah hingar-bingar manusia dalam kereta. Dunia siasat ia geluti untuk mencari sesuap nasi dan tambahan biaya hidup untuk menutupi hutangnya karena istrinya divonis kanker rahim dan ia hanya bisa menghutang untuk melakukan operasi di rumah sakit saiful anwar dengan jaminan tubuhnya karena ia sendiri tidak punya sertifikat untuk digadaikan apalagi gelang emas atau kalung istrinya. Tapi ia jadi juru selamat di stasiun. Setiap bahaya yang mengintai, ia pasti datang saat itu juga dan mengamankan orang yang akan jadi korban, entah disuruh pindah tempat, atau dia ajak ngobrol begitu saja dengan calon korban sehingga pelaku kejahatan tidak lagi mendekatinya.

"Memang sudah berapa orang mas, ibu-ibu yang dipenjara gara-gara menyusui anaknya di stasiun ini".

Tanya ibu paruh baya yang menggendong anaknya umur 8 bulan yang menangis tak kunjung usai sambil menimang-nimang bayinya agar si anak menahan tangisnya.

"wah, sudah diluar kapasitas bu. Penjara khusus pornografi ini sudah melebihi quota kelayakan. Satu berbanding seribu bu". Jawab pedagang asongan ini mengutip sebuah sumber dari koran lokal seperti lagak parlente seorang pengamat yang tahu segalanya.

Ibu ini seolah kaget dan sedikit gusar karena harapan agar si bayi tidak menangis, seolah bayi itu mendengar kata-kata pedangan asongan ini sehingga justru tangisannya menguat dan mengalahkan deru suara kereta yang sedang parkir menunggu akibat kres dengan kereta dari arah yang berlawanan. Sontak banyak orang yang menoleh dan memandang dengan mata bisu bertanya-tanya mengapa bayi itu tak kunjung berhenti menangis. Kalau bisa bicara mungkin bayi ini protes pada direktur stasiunnya.

"Buatkanlah ruang buat aku menyusui biar aku tidak menangis, biar ibuku leluasa neteki mulutku yang terlanjur kecanduan putingmu ibu".

Kalau arsitek stasiun kereta ini tidak peka terhadap kebutuhan aku, emangnya kamu dulu tidak pernah netek sama ibumu kali. Barangkali itu yang dikatakan jika bayi itu bisa saja berbicara. Untunglah tidak ada bayi yang sekritis pengibaratan itu. Dan sampai saat ini tangisan bayi dianggap tetap bukan sebagai medium kritis sosial dan negosiasi bagi keinginan-keinginannya yang tetap menurut orang dewasa dianggap sebagai suara nakal.

Kegusaran berlanjut karena bayi ini tak jua berhenti menangis. Dia tidak merindukan ayahnya karena bagaimana merindukan, ia dianggap anak jadah tanpa ayah karena hasil hubungan gelap sehingga terpaksa ia lahir ke dunia. Seorang ibu ini ibarat udah jatuh tertimpa tangga. Sementara ia masih dihantui oleh kata-kata seorang pedagang asongan koran di stasiun yang bertubi-tubi memberi warning,

"sekali ibu mengeluarkan buah dada untuk neteki bayi ibu, lantas kelihatan oleh polisi pamong praja, pasti ibu akan dimasukkan bui, apalagi dandanan ibu terlihat kusut, tidak rapi, dan semrawut".

"Lantas bagaimana mas saya harus neteki anak saya ini". Sambung ibu yang menengok ke kanan dan ke kiri melihat kira-kira mungkin ada tempat yang aman untuk neteki si bayi yang tetap tidak mau berinisiatif menghentikan tangisannya sementara hiruk pikuk stasiun dan orang-orang yang lalu lalang menatap tanpa suara dan bisu. Mata-mata itu begitu cuek, tidak peduli, acuk dan hanya menatap, terkadang sedikit ada yang mengerutkan dahi seolah pertanda jengkel mendengar tangis yang menyesakkan.

"Cup cup nak, jangan buat ibu malah tambah bingung, dengan cara apalagi ibu membujukmu untuk tidak menangis terus". Si ibu sudah kehabisan akal untuk menghentikan tangis anak yang ada dalam gendongannya. Tak ada cara yang paling efektif untuk menghentikan tangis si bayi kecuali dengan neteki. Tapi si ibu juga gak mau kalau akan di bawa ke bui oleh polisi pamong praja kalau dia mengeluarkan buah dadanya.

Dalam renungan ibu yang sedang mencoba meninabubukkan anak kecil. Tapi jeritan tanpa kompromi bayi mungil mengacaukan tatanan kosmik ruang tunggu stasiun. Ruang yang berisi nyanyian pedagang asongan dan pengamen jalanan, rintihan pilu pengemis dengan suara khas…”mas tolong mas?” yang diulang-ulang untuk mengundang simpati demi uluran recehan uang dari para calon penumpang.

Tuesday, July 31, 2007

Sebuah neraca makna dari sekian sakit hati

Ada neraca mengimani orang lain
Ada neraca pula mengimani diri sendiri
Sebatas apa kita terbuka pada orang lain
Sepeduli apa kita terhadap diri sendiri
Kalau semua tak lagi mau peduli pada dirimu sendiri

Kau siksa dirimu untuk membalas sakit hatimu
Kau hujat orang lain untuk memuaskan dirimu sendiri
Atau kau mampatkan kehidupan ini dengan cara-caramu sendiri

Serimbun apapun, tapi kalau tak berbuah
Kau dalili kebenaranmu untuk memuaskanmu hari ini
Kau hakimi orang lain melalui dalil-dalilmu
Kau sucikan kejahatanmu dengan dalil-dalilmu
Sementara sistem-mu tak kau hiraukan rusak oleh nalar-nalar setanmu

Lantas hidup dalam sistemmu ini apa kau harapkan agar aku menyembahmu seperti tuhan, atau kau tuhankan dirimu agar orang lain takut dan patuh tanpa syarat padamu sebegitu amat bodoh.
Kalau begitu tidakkah aku kau bodohi dengan ayat-ayat sucimu agar diriku ini menerima kau sebagai tuhan keduaku, atau itu kau produksi demi popularitasmu di mata orang lain, sementara teman dan rekan kerjamu kau lainkan begitu saja sampai tak sanggup kau dengan suaranya untuk sekedar sedikit memberi saran agak positif.
Serimbun apapun ayat-ayat suci kita dengung dan tulis sampai di lantai-lantai, bahkan di WC-WC kau tuliskan juga ayat suci, tapi kalau perangaimu tak juga kau sadari dalam umpatan batinmu demi kuasa diri, serimbun apapun pohon itu, tak berbuah bagi sejuta nafkah yang terpisah dari mimpi-mimpimu.