Melaju melampaui batas atap-atap rumah yang padat Bergerak melayang kesamping kiri kanan Kadang menghujam ke bawah Berputar seperti kincir Gerak itu berada dalam kendali tangan yang menguasainya Meskipun berserak kabel Tak mampu membatasi tangan terampil mengurai benang Menerobos melampaui ranjau kabel
Meskipun mainan, tapi ia adalah raja langit musim kemarau Menundukkan angin melalui gerak tarik-ulur Menari, bertarung dan berebut keistimewaan Memadu kreasi mengelola emosi Dibawah kendali tangan terampil Layang-layang menandingi awan Menyaingi bintang sore hari
Metanarasi.Saya merasa terkejut membaca cerita anak saya yang pertama sebagai bagian mengisi waktu luang libur sekolah. Ceritanya sederhana tetapi bagi kami begitu inspiratif, membikin kami sekeluarga galau sejenak. Dia adalah Zara Dz yang saat ini duduk di bangku kelas empat SD. Saya mengamati sudah agak lama dia tidak latihan menulis. Aktifitas di luar belajarnya hari-hari terakhir ini lebih suka membaca buku cerita (KKPK). Saya pun mencoba untuk mengajak dia menulis dan saya katakan kepada dia, "Mbak, kalau hari ini bisa menulis cerita pendek dua halaman, ayah kasih bonus buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Dia langsung tanggap dan membuat tulisan. Berikut ini hasil tulisannya :
***
Menjelang siang hari Zaza bermain dengan temannya. Zaza, Mila, Fita,
dan Rara sedang berdiskusi dan berpikir mau bermain apa.Karena Zaza
bercita-cita ingin menjadi koki yang paling enak makanannya. Dia ingin menjadi
koki yang terkenal dan berkeinginan keliling
dunia.
Rasanya aku ingin mengunjungimu, seketika pikirku membayang dirimu Namun perjumpaan yang terpikir bertabir muara bencana Bagaimana tidak, di kanan kiriku menyeruak cemburu Naif, aku hanya bisa mengumpat dalam hati, bermuram durja dan muksa dalam imajinasi merindu
Kutulis dirimu dalam bait-bait puisi, mungkin akan terobati rindu ini Meskipun itu tak mewakili hadirmu dalam dekap senyap berbius nafsu Tumpah ruah bait-bait menguap liar membebaskan ketidakberdayaan Lantang menyuarakan pendar hati yang tercincang rekat dalam talipati takdir
Sampai di sini aku hanya perlu mengumpat sendiri dalam sanubari yang terkoyak Tiada hati yang bisa sendiri mengunci pesona kagum atas rona biru Paling-paling aku hanya bisa mencumbumu melalui goresan tinta dan gerak kuas lukis untuk mereplikasi kehadiranmu
Aku selalu terjebak dalam dilema, menantimu hadir nyata, atau cukup aku buat nyanyian jiwa seperti tarian jemari mengoles keyboard laptopku untuk membuat puisi-puisi naifku
Silaturrahmi di tulungagung begitu padat Hari pertama, setelah turun dari shalat id, ambengan di musola Setelah itu silaturrahmi ke nenek (sepupuan) dari jalur ibu Ada sekitar lima keluarga yang dikunjungi Menelpon ayah yang berada di jiran Silaturrahmi juga ke ibu kepala desa, yang memang hampir wajib setiap hari raya Seolah malu kalau belum ke kepala desa Selanjutnya silaturrahmi dari jalur ayah Cukup banyak di seberang desa Rombongan bersama saudara Menghabiskan waktu sampai jam 13.30 Tidur, dan bangun lagi
Sorenya melanjutkan silaturrahmi ke tetangga Dengan berjalan kaki Istirahat shalat maghrib Habis itu satu rombongan keluarga meneruskan perjalanan silaturrahmi ke tetangga Total tetangga yang disilaturrahmii tidak kurang dari 20-an KK Begitu silih berganti saling berkunjung antar tetangga
Hari kedua, silaturrahmi dengan anggota lebih besar dari jalur ibu Bersama paman dan anak-anaknya, saudara saya dan anak saya, serta ibu saya Bersama keluarga besar ibu, silaturrahmi ke anak-anak saudara dari nenek jalur ibu saya Melintasi tiga desa Capek Dhuhur itu tidur-tiduran di rumah sambil nunggu rujak makan bersama keluarga dan sanak kerabat Berama anak-anak paman, saya meracik es degan pemberian dari saudara yang baru saja dikunjungi
Hari ini, saya mau ke kakek dari jalur ibu
Lanjut ke jombang Tetapi saya tidak punya banyak bayangan di Jombang Silaturrahminya tidak sepadat di tulungagung Tidak tahu mengapa
Akhirnya sampai juga saya di kampung kelahiranku. Ingatanku di waktu kecil terurai begitu panjang Bocah yang dulu sebagai teman bergulat waktu kecil telah melahirkan sejumlah buku Anak perempuan ingusan yang dulu membelajari sepeda aku Bahkan kini dia seperti tak begitu kenal aku Tak tahu, entah karena ia telah bersuami dan sudah beranak Atau ia tidak sanggup teringat ketika aku jatuh bersamanya saat ia membelajari aku sepeda Yang ia bisa hanya merunduk menyembunyikan wajah masa lalunya dalam wajahnya kini....
Sawah itu sekarang telah banyak bangunan-bangunan toko dan rumah baru Jalur ketika aku mencari "jangkrik" saat penghujan tak lagi tampak Hanya jejak di ingatan ini saja yang tertinggal Atau aku tersenyum sendiri ketika lihat layang layang kini yang lebih janggih Dia melayang di malam hari berkedip Layang-layang kini telah berteknologi Dipasangkan lampu kedip pada layang-layang kini
Kalau aku dulu si pemain layang-layang Tapi kini aku hanya bisa tonton dengan memberi penjelasan pada si kecil Dia adalah anakku
Anakku yang tak pernah lihat layang-layang berteknologi ini Hidup di kota Malang ternyata tak mampu melihat layang-layang bercahaya lampu biru Di kota sana layang-layangnya begitu mungil dan hanya terbang sore hari.... Tak begitu menarik Di desa ini layang-layang telah berganti rupa Berdengung di malam hari, war-wer... Bercahaya biru di langit indah
Meskipun gerimis Layang-layang itu tetap melayang di udara Memecah gelapnya malam Desa dengan layang-layangku yang telah bertransformasi
Naim, siti, daroini, agus, roni, imam, kang rosyid, kalim (almarhum), kang sop, rokim... Ke mana yang lain.................. Mengapa aku tidak ingat nama-nama ketika memanggil kembali zaman di mana aku bersenda gurau ketika itu Yang selalu ranking satu itu, sekarang di mana yaa...........
Mengapa ingatanku telah ditukar oleh hirup pikuk kota Malang Ke mana engkau kawan......... Apakah layang-layang yang telah berganti itu telah mengganti memori ini Kapan kita bisa main layang-layang seperti tempo dulu Kapan kita bisa mencari jangkrik seperti dulu............... Salam dariku untukmu semua Di mana kita bisa bertemu....... Semoga kita tidak hanya bertemu dalam imajinasi syairku ini....... Doaku untukmu kawan......
Anda ingin disebut beradab, maka berpakainlah. Jika ingin lebih etis maka belilah baju agar tubuhmu tak dianggap sebagai penjaja dan pendosa di ruang publik. Jika engkau ingin jadi makhluq agamis maka tubuhmu harus kau kafani menggunakan sutra putih yang disebut sebagai kerudung, atau itu mungkin kurang agamis, gantilah kerudung itu dengan mode jilbab karena jilbab adalah dunia religi agar tubuh mencapai status sebagai muslimah atau menjadi seorang rahib yang menyucikan diri ditandai oleh jilbab pula.
"Patuhlah dan jangan membangkang karena undang-undang pornografi bisa jadi memenjarakanmu gara-gara kau singkap jilbabmu demi menyusui bayimu".
Seloroh seorang laki-laki yang mencoba memberi saran kepada seorang perempuan yang menggendong bayinya ketika sedang kebingungan mencari tempat yang steril dari pandangan mata lelaki hidung belang dan beringas di sebuah stasiun kereta api Kota Baru Malang.
Seorang laki-laki ini nampaknya begitu paham kondisi stasiun kota baru. Wajar saja memang lelaki ini tidak lain adalah pedagang asongan yang sudah mahir bermain siasat ditengah hingar-bingar manusia dalam kereta. Dunia siasat ia geluti untuk mencari sesuap nasi dan tambahan biaya hidup untuk menutupi hutangnya karena istrinya divonis kanker rahim dan ia hanya bisa menghutang untuk melakukan operasi di rumah sakit saiful anwar dengan jaminan tubuhnya karena ia sendiri tidak punya sertifikat untuk digadaikan apalagi gelang emas atau kalung istrinya. Tapi ia jadi juru selamat di stasiun. Setiap bahaya yang mengintai, ia pasti datang saat itu juga dan mengamankan orang yang akan jadi korban, entah disuruh pindah tempat, atau dia ajak ngobrol begitu saja dengan calon korban sehingga pelaku kejahatan tidak lagi mendekatinya.
"Memang sudah berapa orang mas, ibu-ibu yang dipenjara gara-gara menyusui anaknya di stasiun ini".
Tanya ibu paruh baya yang menggendong anaknya umur 8 bulan yang menangis tak kunjung usai sambil menimang-nimang bayinya agar si anak menahan tangisnya.
"wah, sudah diluar kapasitas bu. Penjara khusus pornografi ini sudah melebihi quota kelayakan. Satu berbanding seribu bu". Jawab pedagang asongan ini mengutip sebuah sumber dari koran lokal seperti lagak parlente seorang pengamat yang tahu segalanya.
Ibu ini seolah kaget dan sedikit gusar karena harapan agar si bayi tidak menangis, seolah bayi itu mendengar kata-kata pedangan asongan ini sehingga justru tangisannya menguat dan mengalahkan deru suara kereta yang sedang parkir menunggu akibat kres dengan kereta dari arah yang berlawanan. Sontak banyak orang yang menoleh dan memandang dengan mata bisu bertanya-tanya mengapa bayi itu tak kunjung berhenti menangis. Kalau bisa bicara mungkin bayi ini protes pada direktur stasiunnya.
"Buatkanlah ruang buat aku menyusui biar aku tidak menangis, biar ibuku leluasa neteki mulutku yang terlanjur kecanduan putingmu ibu".
Kalau arsitek stasiun kereta ini tidak peka terhadap kebutuhan aku, emangnya kamu dulu tidak pernah netek sama ibumu kali. Barangkali itu yang dikatakan jika bayi itu bisa saja berbicara. Untunglah tidak ada bayi yang sekritis pengibaratan itu. Dan sampai saat ini tangisan bayi dianggap tetap bukan sebagai medium kritis sosial dan negosiasi bagi keinginan-keinginannya yang tetap menurut orang dewasa dianggap sebagai suara nakal.
Kegusaran berlanjut karena bayi ini tak jua berhenti menangis. Dia tidak merindukan ayahnya karena bagaimana merindukan, ia dianggap anak jadah tanpa ayah karena hasil hubungan gelap sehingga terpaksa ia lahir ke dunia. Seorang ibu ini ibarat udah jatuh tertimpa tangga. Sementara ia masih dihantui oleh kata-kata seorang pedagang asongan koran di stasiun yang bertubi-tubi memberi warning,
"sekali ibu mengeluarkan buah dada untuk neteki bayi ibu, lantas kelihatan oleh polisi pamong praja, pasti ibu akan dimasukkan bui, apalagi dandanan ibu terlihat kusut, tidak rapi, dan semrawut".
"Lantas bagaimana mas saya harus neteki anak saya ini". Sambung ibu yang menengok ke kanan dan ke kiri melihat kira-kira mungkin ada tempat yang aman untuk neteki si bayi yang tetap tidak mau berinisiatif menghentikan tangisannya sementara hiruk pikuk stasiun dan orang-orang yang lalu lalang menatap tanpa suara dan bisu. Mata-mata itu begitu cuek, tidak peduli, acuk dan hanya menatap, terkadang sedikit ada yang mengerutkan dahi seolah pertanda jengkel mendengar tangis yang menyesakkan.
"Cup cup nak, jangan buat ibu malah tambah bingung, dengan cara apalagi ibu membujukmu untuk tidak menangis terus". Si ibu sudah kehabisan akal untuk menghentikan tangis anak yang ada dalam gendongannya. Tak ada cara yang paling efektif untuk menghentikan tangis si bayi kecuali dengan neteki. Tapi si ibu juga gak mau kalau akan di bawa ke bui oleh polisi pamong praja kalau dia mengeluarkan buah dadanya.
Dalam renungan ibu yang sedang mencoba meninabubukkan anak kecil. Tapi jeritan tanpa kompromi bayi mungil mengacaukan tatanan kosmik ruang tunggu stasiun. Ruang yang berisi nyanyian pedagang asongan dan pengamen jalanan, rintihan pilu pengemis dengan suara khas…”mas tolong mas?” yang diulang-ulang untuk mengundang simpati demi uluran recehan uang dari para calon penumpang.
Tuesday, July 31, 2007
Sebuah neraca makna dari sekian sakit hati
Ada neraca mengimani orang lain Ada neraca pula mengimani diri sendiri Sebatas apa kita terbuka pada orang lain Sepeduli apa kita terhadap diri sendiri Kalau semua tak lagi mau peduli pada dirimu sendiri
Kau siksa dirimu untuk membalas sakit hatimu Kau hujat orang lain untuk memuaskan dirimu sendiri Atau kau mampatkan kehidupan ini dengan cara-caramu sendiri
Serimbun apapun, tapi kalau tak berbuah Kau dalili kebenaranmu untuk memuaskanmu hari ini Kau hakimi orang lain melalui dalil-dalilmu Kau sucikan kejahatanmu dengan dalil-dalilmu Sementara sistem-mu tak kau hiraukan rusak oleh nalar-nalar setanmu
Lantas hidup dalam sistemmu ini apa kau harapkan agar aku menyembahmu seperti tuhan, atau kau tuhankan dirimu agar orang lain takut dan patuh tanpa syarat padamu sebegitu amat bodoh. Kalau begitu tidakkah aku kau bodohi dengan ayat-ayat sucimu agar diriku ini menerima kau sebagai tuhan keduaku, atau itu kau produksi demi popularitasmu di mata orang lain, sementara teman dan rekan kerjamu kau lainkan begitu saja sampai tak sanggup kau dengan suaranya untuk sekedar sedikit memberi saran agak positif. Serimbun apapun ayat-ayat suci kita dengung dan tulis sampai di lantai-lantai, bahkan di WC-WC kau tuliskan juga ayat suci, tapi kalau perangaimu tak juga kau sadari dalam umpatan batinmu demi kuasa diri, serimbun apapun pohon itu, tak berbuah bagi sejuta nafkah yang terpisah dari mimpi-mimpimu.