Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, May 08, 2012

Cita-Citaku Tercapai


Metanarasi. Saya merasa terkejut membaca cerita anak saya yang pertama sebagai bagian mengisi waktu luang libur sekolah. Ceritanya sederhana tetapi bagi kami begitu inspiratif, membikin kami sekeluarga galau sejenak. Dia adalah Zara Dz yang saat ini duduk di bangku kelas empat SD. Saya mengamati sudah agak lama dia tidak latihan menulis. Aktifitas di luar belajarnya hari-hari terakhir ini lebih suka membaca buku cerita (KKPK). Saya pun mencoba untuk mengajak dia menulis dan saya katakan kepada dia, "Mbak, kalau hari ini bisa menulis cerita pendek dua halaman, ayah kasih bonus buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Dia langsung tanggap dan membuat tulisan. Berikut ini hasil tulisannya :

***
Menjelang siang hari Zaza bermain dengan temannya. Zaza, Mila, Fita, dan Rara sedang berdiskusi dan berpikir mau bermain apa. Karena Zaza bercita-cita ingin menjadi koki yang paling enak makanannya. Dia ingin menjadi koki yang terkenal dan berkeinginan keliling dunia.

Thursday, May 03, 2012

Modernisasi Transportasi Publik, Belajar dari Negara Tetangga

Metanarasi. Selama dua hari (16-17/02) di Kuala Lumpur (KL) dan tiga hari di Singapura (18-20/02) saya mengamati realitas dan mode transportasi publik yang dikembangkan kedua pemerintah ini. Mengapa catatan ini demikian penting disampaikn di sini? Alasan pertama, saya merasa memperoleh kemudahan dengan menggunakan jasa transportasi. Sejak awal kedatangan di kota ini saya dan rombongan menggunakan transportasi bis dan kereta api monoril atau dikenal dengan sebutan MRT (Mass Rapid Transit). Saya merasa mudah bepergian dari satu tempat ke tempat lain meskipun berganti dua jenis transportasi baik dari bis ke kereta api atau sebaliknya.

Kedua, ada sedikit rasa aman semisal tidak berdesakan ketika hendak masuk pintu karena meskipun penumpangnya banyak, orang-orang terbiasa antre sehingga peluang atau resiko kecopetan menjadi minimal. Pun di saat jam padat, tidak terlihat ada gelagat dorong mendorong satu dengan yang lainnya.


Ketiga, tidak terjadi armada yang berebut penumpang karena waktu mereka bergerak secara pasti dan tidak berusaha saling mendahului antara bus yang satu dengan yang lainnya. Awak bus juga tidak berusaha mendahului ataupun ugal-ugalan sehingga menyebabkan kecelakaan pada penumpang.

Saturday, October 16, 2010

Aku, Nina yang Perempuan

Setelah aku lulus dan menjadi sarjana BK (Bimbingan Konseling) Universitas Negeri Malang, kami hijrah ke Jakarta karena ustadz Manaf dipindah kerja. Kami menempati rumah dinas dari sebuah perusahaan pelayanan jasa konstruksi. Rumah itu begitu besar, megah dan menjadi bagian dari rajutan keluarga islami.
Sebagai muslimah, aku mengelola rumah agar suamiku mendapati bunga-bunga surgawi di rumah sendiri. Ini adalah inti ajaran nabi, bahwa “sebaik-baiknya perhiasan adalah istri atau perempuan sholihah”. Aku ingat betul ketika zauji, yang dulu rutin mengisi pengajian mingguan di mushola At-Tibyan, mengulang-ulang hadits nabi tersebut sehingga ingatan itu begitu bercokol di luar kepalaku. Aku harus menjadi hiasan di antara hiasan. Ini adalah satu dari sekian praktik menjadi muslimah”.
“Umi. Islam di Indonesia ini perlu ditegakkan. Kewajiban kita sebagai muslim taat harus memperjuangkan Islam menjadi bagian hukum-hukum negara ini. Lihat, karena tidak diberlakukan hukum Islam, pornografi merajalela, kemaksiatan mengumbar di mana-mana, perempuan membahanakan auratnya di jalanan. Itu sebabnya banyak kasus-kasus pelecehan seksual. Karena tidak diterapkan hukum Islam pula, pemerintahan kita menjadi carut-marut”.
“Iya bi. Saya berpikir perempuan di Indonesia harus dibelajari untuk menutup aurat mereka dengan benar”.
“Ya..betul mi. setidaknya kecantikan perempuan itu hanya untuk suaminya. Betullah apa yang Umi perbuat dan lakukan pada Abi. Tubuh yang seksi, kan hanya untuk suami. Perempuan di luar pun meskipun berjibab, tetapi kan ketat-ketat juga banyak. Mereka itu belum membedakan ajaran khimar dan jilbab. Jilbab itu kan produk Barat. Inilah Mi yang perlu sampean bantu sadarkan perempuan-perempuan itu”. Sentil zauj-ku kepada ku di saat kami sedang santai di sore hari pada teras rumah kami.
Zauj-ku kembali melanjutkan makna-makna perempuan dalam agama sambil menyeruput kopi tubruk buatanku.
“Khimar itu adalah jilbab yang umi kenakan kalau keluar rumah. Memanjang seperti lorong dan pakaian berdaster yang longgar sehingga menutupi bentuk tubuh. Inilah ajaran Islam sebenarnya”.
“Bolehlah memakai jeans, bolehlah menunjukkan mode rambut yang ekstotik, tetapi itu kan untuk suami. Itu tu…mi, eksotisme umi, mode rambut umi yang ngandan-ngandan…wyuuuuh, sebagai suami saya merasa mencium bau surgawi mi…. Kecantikan umi, polesan shadow menjelang tidur yang umi pakai menambah degub jantung abi terkoyak dan mendistorsi keimananku. Seolah aku lalai pada tuhanku”. Aku mendengar suara abi agak hambar.
“Ehhhhhh…. Abi mulai genit kan!” Begitu aku menimpali kata-kata abi.
“Lo…sebagai manusia biasa, ya…manusiawi to mi….Sahut laki-laki yang dulu pernah aku panggil ustadz Manaf ketika masih kuliah di Bimbingan Konseling UM.
Malam makin larut. Perbincangan itu tenggelam di antara malam dalam purnama terang. Bergulir remang-remang cahaya rembulan. Nasib-nasib malam dibentuk. Haru biru, riak di antara dunia malam bermetamorfosis dalam takdir-takdir malam.
***
Rumah kami dipenuhi oleh dinamika keagamaan dalam diskursus islami. Kami selalu mengupayakan dan mengidamkan negara Islam yang damai. Perbincangan hari demi hari tidak luput dari ekspresi keagamaan kami. Kebetulan zaujku adalah pengurus “Forum Umat Islam” dan satu dari sekian anggota penggerak perjuangan syari’at Islam sekaligus pembina buletin Islami. Zaujku suka menulis dan mengisi ceramah-ceramah di organisasi keagamaan, terutama untuk wilayah Bintaro, Jakarta.
Tidak terasa delapan tahun kami menjalin hubungan keluarga. Delapan tahun itulah kemudian kami dikaruniai kepercayaan oleh Allah SWT sebuah anak. Aku menjadi seorang ibu. Tugasku amat berat. Tanggungjawabku bertambah.
Selain harus tampil prima dan membangun mimpi surgawi bagi zaujku, aku harus berjibaku dengan mengasuh anak. Anak kami harus tumbuh dalam etika dan nilai-nilai islami. Ini adalah amanah. Anak perlu mendapat perhatian. Jangan sampai ia akan menjadi pewaris-pewaris kenakalan remaja yang sudah semakin jauh dari nilai-nilai Islam.
“Mmmm..kalau nanti udah SMA, apa ya…. Oh ya!. Aku akan saranin masuk Rohis aja deh..! Eh…ngelantur nih….”
Tersadar aku dari lamunanku untuk membayangkan masa depan anakku. Aku terbangun dari lamunan karena abi menepuk punggungku dari belakang.
“Ehh…abi, bikin aku terkejut..”
Sambil menimang dibalik tubuhku dari belakang, kepala abi mendekat di sebelah pipiku, zaujku berujar,
“Allahu akbar, allahu akbar…Allah maha besar. Allah maha besar”. Abi menimang bayi kecil menandakan harapan dan kebahagiaan. Aku tertawa kecil.
“Apa mi, kok ketawa”.
“Abi nih, ngudang anak kok katrok ! Kayak demo menuntut pembubaran tempat pelacuran saja. Agak manis begitu lo…bernyanyi sholawat begitu atau nembang lagunya Hadad Alwi begitu”. Sahutku sambil tersenyum.
Malam itu semakin larut. Tidak terlihat cahaya purnama di langit Bintaro. Setelah bayiku tertidur. Zaujku memanggilku untuk minta berbaring di sampingnya. Sambil memandangi langit-langit rumah kami, aku dipanggil abi.
“Mi… boleh aku bicara sedikit agak serius.”
“Wonten nopo bi..Sahutku berbahasa Jawa halus.
“Begini mi..mmm……”
Tidak seperti biasanya. Zaujku berkata dengan nada rendah, agak bergetar dan berat. Seakan menyuarakan sesuatu yang tidak wajar. Amat kuat aku rasakan. Tetapi aku tidak mau berkata-kata. Aku hanya berkata,
“Monggo bi…diaturke mawon. Kulo mirengaken”. Sahutku.
Sebagai sarjana bimbingan konseling, kalau sudah begini, aku harus menjadi pendengar yang baik. Begitu kata yang sering aku dengar dari dosenku waktu masih kuliah di UM.
“Begini mi…saya merasa amat sibuk. Selain pekerjaan, saya harus mengurusi umat dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Saya merasa tidak cukup hanya dilayani oleh seorang istri”.
Aku amat terkejut bukan kepalang. Langsung aku bangkit dari ranjang kami dan berkata sedikit agak lantang.
“Maksud abi apa ! Mau menikah lagi..!”
Nadaku agak keras, sampai ranjang kami bergoyang. Aku langsung terdiam. Kami terdiam. Aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang. Aku memandangi langit. Berbaring membelakangi abi. Aku menghela nafas. Aku mengatur nafas beberapa kali sampai aku pada sebuah bayangan masa lalu.
“Ustadz manaf pernah berujar, fankihu ma tobalakum minannisa’, mastna, wasulasta wa ruba’, Lamunanku merasuk ke masa lalu. Aku teringat betul, saat itu aku duduk dibalik satir, duduk agak belakang di mushola at-Tibyan.
Tetapi aku adalah perempuan yang berhati satu. Aku adalah Nina yang perempuan. Satu hati perempuan yang tidak ingin dikhianati. Tak bisa tergadai begitu rupa. Aku berusaha memahami lanjutan ayat itu yang terakhir berbunyi ala ta’dilu, atau yang kuingat terjemahan dari lanjutan ayat itu…”tetapi jika kamu tidak berlaku adil, maka nikahilah satu saja”.
Kecamuk ini telah menandai hubungan yang aku rasakan telah merubah hatiku dan juga kadar cintaku. Aku berada dalam dilema, suara hati atau wahyu tuhan. (Bersambung di lain waktu).

Monday, October 11, 2010

Meminang Perempuan Muslimah

KEPIAWAIYANNYA membaca Al-Quran, membuat hatiku terpana. Dunia runtuh didalam sanubariku saat dia melantunkan ayat-ayat suci Tuhan di mushola At-Tibyan, kampus Universitas Negeri Malang.
Mendekati hari minggu, aku tidak biasa meluangkan waktu untuk bermalam minggu atau berjalan-jalan menjadikan hari libur ini ke pasar pagi di stadion Gajayana. Meskipun Hamidah adalah teman akrabku, tetapi malam Minggu dan Minggu pagi, kami selalu bertabrakan dalam dua kepentingan besar yang berbeda, dan menurutku prinsipil.

Hamidah selalu mengatakan,
“Malam mingguan aaahhhh!. Cari kaos Arema di pasar Minggu aahhh!”
Letupan mulutnya kuhafal dan hampir dipastikan akan diucapkan jika Sabtu telah tiba.
Sementara aku tidak akan menarik diri untuk kegiatan maksiat itu. Perbedaan ini prinsipil. Aku bergumam dalam hati ini,
“Malam minggu bagi Hamidah ibarat malam saat mana manusia berdamai dengan setan. Ah..aku tidak mau menjadi teman setan. Minggu hura-hura di pasar minggu, adalah pemborosan, menambah kemaksiatan. Mending aku tak perlu jalan-jalan untuk sekedar mendapati maksiat”.
Aku harus mencari pahala. Makanya, setiap minggu saya mesti menghadiri jamaah ikhwan/akhwat di mushola At-Tibyan, kampusku. Hamidah, bagiku adalah ujian dan tantangan. Aku harus berjuang untuk tidak menjadi bagian dari syaitan, sebagaimana Hamidah. Itu yang selalu aku camkan pada benakku. Aku yakin bahwa ustadz Manaf memang betul.
Minggu ini aku mendengar kesekian kali lantunan ayat suci Al-Quran ustadz Manaf di sela-sela ceramah rutinnya.
“Menjadi wanita itu harus bisa menjaga diri. Selalu menundukkan pandangan. Tidak sak karepe dewe. Ojo koyok lonte-lonte kui. Sebagai wanita harus tahu, bau minyak wangimu saja aurat, apalagi bersuara atau menyanyi. Itu bukan muslimah sejati, itu lebih besar mendekati haram”.
Begitu ustadz Manaf mengingatkan pada akhwat yang selalu setia duduk dibalik tabir di mushola At-Tibyan. Sebuah hadits kembali dibaca secara lantang berirama merdu sembari memberi penjelasan terkait identitas muslimah.
Kata-kata ustadz Manaf menjadikan kemuslimahanku tergetar. Terkoyak.
“Benar-benar aku diingatkan untuk kesekian kalinya. Saya harus instrospeksi menjadi perempuan. Saya harus hati-hati menempatkan diri saya di manapun dan kapanpun. Saya tidak ingin dicap sebagai penyebab dosa”.
Pikiran itu selalu menjadi nasihat dalam batinku yang perempuan ini.
Hatiku tergetar saat mendengar kata-kata ustadz. Entah mengapa ? Saya seolah digerakkan setiap minggu untuk selalu menghadiri pengajian ustadz Manaf. Kalau Hamidah ribut malam mingguan, atau jalan pagi ke pasar minggu dengan sang pacar, aku selalu terbayang ustadz Manaf dengan tutur katanya yang menyentuh keperempuananku.
Entah mengapa ? Beberapa minggu ini saya didorong-dorong untuk lebih serius menghadiri pengajian ustadz Manaf di mushola At-Tibyan. Perasaan yang janggal. Harapan yang tidak karuan. Gejolah jiwa yang menggelora. Tidak.
Tapi entah mengapa gerakan dan dorongan itu begitu kuat bercokol ketika hari menjelang weekend.
Minggu itu datang kembali. Saya berjalan kaki dari tempat kos saya di Jl. Surabaya menuju mushola At-Tibyan di kampus Universitas Negeri Malang. Sesampainya di mushola At-Tibyan, sebagaimana biasanya, ustadz Manaf kembali melantunkan bacaan al-Quran sembari membuat tafsir.
Hatiku tidak keruan. Jiwaku tergetar selalu ketika mendengar pengajian ustadz Manaf. Merasa ada yang terpergok. Kecamuk hati selalu berirama bersama dinamika pengajian. Di pojok agak belakang, saya duduk bersandar di tembok mushola sambil mendengar dengan ikhlas suara dan nasihat ustadz Manaf. Saya tidak berani menatap langsung ustadz Manaf karena saya tahu itu dosa dan akan menambah maksiat. Satir warna putih paling tidak juga sedikit bisa menjadi tempat berlindung dan meringankan aku untuk tidak memandang ustadz Manaf. Satir itu juga membuat tengkukku sedikit bebas karena tidak selalu harus menundukkan kepala. Satir telah membantu aku dari tugas saya untuk tidak menundukkan kepala.
Sesekali aku mencoba melihat wajah ustadz Manaf. Tetapi satir itu membuatku sedikit perlu bergeser untuk mampu melihat wajah ustadz.
“Seandainya aku laki-laki, pasti aku bebas menengadah dan berinteraksi langsung dengan ustadz”. Gumamku dalam hati.
Ups. ! Astaghfirullah. Kok aku sampai berpikir demikian. Aku kan perempuan. Itu menambah aku semakin jauh dari surga saja. Saya harus ingat-ingat pesan ustadz Manaf untuk tidak neko-neko menjadi perempuan muslimah.
“Fankuhi ma thobalakum minan nisa’i, mastna, wastulatsa, waruba’a. Di sinilah perempuan akan dihadapkan ujian yang besar. Bagi perempuan, jika sudah bisa melalui ini, jaminan surga amat sangat dekat”.
Ustadz Manaf kembali menegaskan tentang posisi perempuan muslimah dalam rumah tangga.
Ayat ini awalnya aku benci. Tetapi aku harus belajar bahwa itu adalah surga dan bagian dari takdir perempuan dan keputusan tuhan. Tidak mungkin saya melawan wahyu tuhan. Aku harus belajar menjadi perempuan muslimah.
Menjelang usai pengajian, Aku hampir pingsan bukan kepalang.
“Akhwat Nina, saya mohon anda menjadi ketua bagi jamaah akhwat kita di mushola At-Tibyan”.
Harapanku, aku tidak dipanggil ustadz Manaf. Aku berniat hanya mendengarkan lantunan bacaan ustadz Manaf yang mendayu dan nilai-nilai tafsir tentang perempuan muslimah yang ingin kudengarkan. Itu niat awalku.
Aku tengadah, bergerak secara refleks. Aku langsung menatap wajah ustadz Manaf. Lima detik kami bertatap muka. Allahu Akbar. Aku berdosa telah bertatap mata dengan ustadz Manaf. Aku harus menjaga pandangan. Aku seorang muslimah. Allah. Ampuni aku yang tidak menjaga pandangan. Saat aku ingin menjadi muslimah, mengapa Kau menguji aku melalui panggilan ustadz Manaf. Ya Allah, berikan aku petunjuk untuk tidak menjadi sebab atas ustadz Manaf sehingga mengurangi pahala ustadz Manaf itu karena pandanganku. Kegelisahan itu membawa aku hingga sampai di gang kos di Jl. Surabaya. Kegelisahanku juga hampir membuat aku diserempet angkot jalur GL.
Aku ambil al-Quran. Aku mengaji untuk melalaikan rasa bersalahku. Semoga aku konsisten atas niatku untuk menjadi perempuan muslimah. Hari ini aku telah disapa oleh ustadz Manaf.
Usai membaca al-Quran. Dering ponsel saya berbunyi, pertanda ada SMS yang masuk. Amat terkejut. SMS itu bertuliskan demikian,
“Akhwat Nina, saya ingin menjadikan anda zaujah saya. Dalam waktu tidak lama saya akan meminang anda” (Ust. Manaf).(Bersambung)