Showing posts with label spiritualitas. Show all posts
Showing posts with label spiritualitas. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Hikmah 3 : Mahabah Bi Allah

Metanarasi. Minggu malam Senin, saya dan sekeluarga melanjutkan tarawih di masjid AL-Muhajirin RW 8 Perumahan Joyogrand Kelurahan Merjosari Malang. Kultum kali ini mengambil tema mengenai cinta kepada Allah (Mahabah Bi Allah) yang disampaikan oleh Ust. Syamsul Afandi.

Pada kesempatan malam yang diliputi udara dingin yang bertiup dari luar masjid yang megah, Ust Syamsul Afandi mengulas bahwa semakin dalam kita mengenali rahasia Allah maka akan semakin lama nampak kebesaran Alllah. Begitulah hakikah cinta. Semakin mendekat dan semakin kita bisa masuk pada rahasia itu, maka disitulah cinta akan memperoleh pencerahannya. Begitulah Ust. Syamsul Afandi mengawali kuliah sepuluh menit setelah shalat isya’.

Monday, July 23, 2012

Hikmah 2 : Manfaat Silaturahim di Rutinan Jamaah Waqiah

Tarawih kedua, saya ingin menguraikan manfaat silaturahim. Di ramadhan kedua ini, kebetulan di rumah ada acara rutinan Jamaah Waqiah sehingga tarawih keluarga dilakukan di rumah sendiri. Rutinan Jamaah Waqiah diikuti dari kalangan muda IKA-PMII yang kebanyakan dari alumni UIN Maliki Malang, namun sebagian yang hadir ada juga sahabat-sahabat dari komisariat, KOPRI, rayon dan sahabat-sahabat yang baru saja usai dari kepengurusan komisariat dan rayon.
Rutinan Jamaah Waqiah sudah berjalan tiga tahun. Setiap tahun kami usahakan agar selalu ada anggota yang ikut berpartisipasi. Jenjang partisipasi ini bersifat sukarela dan ada yang berinisiatif meningkatkan intensitas partisipasi dengan cara arisan.

Saturday, July 21, 2012

Hikmah 1 : Memahami Perbedaan dan Memperbaiki Diri

Pada Jumat ini (20/07/2012), saya dan keluarga ibda’ terhadap keputusan pemerintah, dalam menetapkan pilihan berpuasa, yang ditetapkan mulai besuk Sabtu berdasarkan metode penetapan awal Ramadhan dengan rukyah al-hilal.
Adzan isya’pun terdengar sayup-sayup. Sebagaimana muslim lainnya, saya dan keluarga menuju masjid Al-Muhajirin RW 8 Perumahan Joyo Grand Merjosari Malang untuk menunaikan ibadah sunnah ramadhan, yakni shalat tarawih. Puji-pujian dilantunkan bersama jamaah masjid sambil menunggu iqomah shalat isya’. Tidak berselang kemudian, kumandang iqomah, jamaah Masjid Al-Muhajirin memulai shalat isya’. Pada jamaah kali ini, yang didaku sebagai imam shalat isya’ dan tarawih adalah Ust. Zainal, alumni dari Pesantren Gading Asri Malang.

Saturday, May 19, 2012

Jejak Pluralisme dalam Islam

Judul : Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan; Penulis : KH. Husein Muhammad;
Penerbit : Mizan, Bandung; Tahun : Oktober 2011; Tebal : xiv + 217 Hal

Metanarasi. Peristiwa kekerasan agama yang didasari oleh ketegangan antarkelompok agama dan antaragama di Indonesia membuktikan perbedaan belum dihargai sebagai rahmah. Padahal kemajemukan bangsa ini niscaya saat laku hidup kita semakin terampil dalam mengelola perbedaan.

Husein Muhammad, sosok Kiai feminis, ini berusaha menyumbangkan nalar pluralisme dengan menggali pemikiran lima mahaguru umat Islam. Mereka adalah Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibn 'Arabi, Al-Hallaj, dan Ar-Razi. Kiai Husein ingin membawa Islam ke perspektif religio-humanistik agar keberagamaan kita mampu menoleransi perbedaan. Secara tauhid, Islam itu agama yang melampaui identitas dan berkembang menjadi agama yang memanusiakan manusia. Islam bukanlah agama yang menghancurkan kemanusiaan tetapi agama yang menjaga agar kemanusiaan lestari dan sebagai spirit mengelola perbedaan. Oleh karena itu, perbedaan sebuah agama tidaklah terlalu penting dan dipertajam.

Pandangan tersebut dibahas secara mendalam pada bagian pertama buku ini melalui perspektif metodologis untuk menemukan dasar-dasar pluralisme dalam Islam, terutama dalam memahami Al-Quran. Metodologi yang ditawarkan menggunakan takwil (hermeneutik) atau disebut tafsir bi al-ra’yi. Metode ini menangkap makna Al-Quran melampaui materi literalis teks. Kelahiran teks suci Al-Quran mengandung gagasan kontekstual yang perlu diselami sampai tersingkap fakta-fakta dibalik makna yang terlafadzkan, dari yang terpikirkan hingga yang tak terpikirkan, bahkan mencapai makna spiritualitasnya.

Sunday, May 06, 2012

Mengharap Imbalan dari Shodaqah

Metanarasi. Di akhir bulan ini (Insya Allah Desember, 2011) saya terlibat refleksi mengenai shodaqah dan makna ikhlas dengan keluarga dan sejawat. Pembicaraan ini bagian dari usaha belajar melatih menjadi ahli shodaqah, meskipun sebutan itu bukan sebuah obsesi akhir shodaqah. Sebuah kebetulan saya bertemu dengan seseorang dan dalam pembicaraan tersebut tidak sengaja sampai pada pembicaraan mengenai membiasakan diri shodaqah. Dia bercerita kalau saat ini sedang menggalang kelompok ahli shodaqah dan mendapat anggota 10 orang. Kelompok tersebut mendedikasikan diri dengan menarget 10 juta dalam setahun untuk shodaqah perorang.

Kami tidak sedang membahas dengan rasionalisme, yakni membangun logika dasar dalam menakar kesanggupan mencapai target itu. Kami terfokus berbicara mengenai metanarasi—merangkai berbagai penuturan yang cukup beragam—dibalik hikmah shodaqah. Menurut dia, kemauanlah yang menjadi modal, meskipun secara matematis hitungan pemasukan pun tidak sebanding dengan akumulasi target shodaqah. Bershodaqah menurutnya perlu dibangun melalui kebiasaan yang kontinum terus menerus sepanjang hayat.